dari hujan bulan oktober
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu*
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan oktober
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu*
Masih dalam malu, kali ini aku semakin kuat menjatuhkan butir-butir perasaanku. Visi yang sama tuk menolong agamaNya. Misi yang sama untuk menyempurnakan setengah ini. Barangkali kau pun ragu-ragu dan aku pun ragu-ragu. Tenggelam dalam retorika yang tak pasti. Kata-kata itu pun akhirnya jatuh darimu, sehingga aku pun semakin ragu. Kujatuhkan pula kata itu, namun nihil reaksimu. Hingga hujan pun turun menghapus mozaik keabstraksian itu. Kembali aku dalam ragu, di tengah rintik-rintik hujan yang membisu. Sementara nun jauh di sana mungkin kau sedang dipinggir jendela, menyaksikan jejak-jejak keraguanku yang semakin kabur tak menentu.
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan oktober
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu*
Namun sejarah tak pernah lelah dalam mencatat. Entah memori khusus tentangmu selalu hadir dalam sketsa pikiranku. Sementara aku dibekap 2 pilihan antara perjuangan dan pengorbanan. Dan inilah jalan yang kupilih ialah sebuah perjuangan. Sementara kau di sana tanpa sadar telah menyerap abstraksi-abstraksi itu. Ah mungkin Tuhan pun merahasiakan rintik rinduku rindumu, rindu kita. Tak lelah Dia menghapus jejakku jejakmu. Lalu menuangkannya ke dalam memoar-memoar masa lalu. Mungkin inilah caraNya mempersiapkan sebuah waktu di mana kita menyeleseikannya. Antara aku dan dirimu, kita.
#DewiKSN


0 comments:
Post a Comment