“Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia bumiputra, kalau bukan oleh karena kami, tentu oleh orang lain, kemerdekaan perempuan telah terbayang-bayang di udara, sudah ditakdirkan…” (Surat R.A. Kartini kepada temannya Zeehandelaar, 9 Januari 1901)

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang Inspirasi Sang Emansipator Jilid 1 , maka bertepatan dengan hampir menjelang atau mendekati tanggal 21 April, sebuah hari yang diperingati sebagai Hari Kartini. Sebuah hari di mana momentum kebangkitan pergerakan perempuan dimulai. Maka lahirlah sebuah ideologi baru yang bernama Emansipasi Wanita. Secara bahasa emansipasi berasal dari bahasa latin yaitu “emancipatio” yang berarti kesetaraan. Itu berarti wanita dan pria memiliki peran dan fungsi yang sama dalam kehidupan bermasyarakat. Walaupun tentunya masih ada batasan-batasan yang harus dijaga. Emansipasi wanita memiliki makna sebagai proses pelepasan kedudukannya dalam ranah politik, sosial, ekonomi, serta bidang-bidang lainnya yang selama ini justru direndahkan. Juga termasuk pengekangan di bidang hukum yang membuat para wanita sulit untuk berkembang. Sulit untuk maju melejitkan potensi-potensi dirinya.

Jika kita mengingat perjuangan Kartini di masa lalu sungguh luar biasa. Aspek yang ia perjuangkan adalah bagaimana wanita dapat memperoleh pendidikan yang sama dengan kaum pria. Pada masa penjajahan Belanda saat itu, wanita tidak berhak menerima pendidikan laksana para pria. Berikut adalah cuplikan Surat RA. Kartini yang pada tahun 1903 dipublikasikan melalui surat kabar:
Berikanlah Pendidikan kepada Bangsa Jawa!
Siapakah yang akan menyangkal bahwa wanita memegang peranan penting dalam hal pendidikan moral pada masyarakat. Dialah orang yang sangat tepat pada tempatnya. Ia dapat menyumbang banyak (atau boleh dikatakan terbanyak) untuk meninggikan taraf moral masyarakat. Alam sendirilah yang memberikan tugas itu padanya.
Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak…”
“Tangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Tidak begitu saja dikatakan bahwa kebaikan ataupun kejahatan itu diminum bersama susu ibu. Dan bagaimanakah ibu Jawa dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?
“Hanya sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat. Lingkungan keluarga (orang tua) harus membantu juga. Malahan lebih-lebih dari lingkungan keluargalah yang seharusnya datang kekuatan mendidik. Ingatlah! Keluarga (orang tua) dapat memberikan pengaruhnya siang-malam, sedang sekolah hanya beberapa jam saja…”
“Binalah mereka (putri2 bangsawan) menjadi ibu2 yang pandai, cakap dan sopan. Mereka akan giat menyebarkan kebudayaan di kalangan rakyat. Sadar akan panggilan moral dalam masyarakat mereka akan menjadi ibu2 yang penuh kasih sayang, pendidik yang baik dan berguna bagi masyarakat yang memerlukan bantuan dalam segala bidang.”  (Berikanlah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa *baca: Indonesia – Nota R.A. Kartini tahun 1903 yang dipublikasikan melalui berbagai surat kabar.)
Surat di atas waktu itu cukup menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Dengan tulisannya RA Kartini mampu mengguncangkan budaya yang terjadi pada waktu itu yaitu merendahkan hak-hak seorang wanita. Usai ia wafat, kita langsung mengenal banyak berbagai pergerakan wanita muncul. Sebut saja Martha Christina Tiahahu yang lebih dikenal dengan Marsinah. Ia adalah wanita yang dikenal gigih berjuang bersama Pattimura di Maluku. Ada juga Cut Nyak Dien dan Cut Muthia dua srikandi dari Nanggroe Aceh Darussalam yang tak kenal menyerah untuk mengusir pendudukan pasukan Kape (Belanda) di bumi persada, tak ketinggalan nama Herlina Efendi yang dianugerahi pending Cendrawasih Emas dari pemerintah RI atas jasanya untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan kolonial Belanda. Serta masih banyak lagi wanita-wanita gigih yang muncul pasca munculnya pemikiran revolusioner RA Kartini

3 Fitrah Seorang Wanita
Sebelum melangkah lebih jauh tentang apa itu emansipasi di era global seperti ini, hendaknya kita kembali dulu melihat dengan mata hati kita. Bahwa wanita sesungguhnya memiliki tiga fitrah suci yang tak dimiliki oleh laki-laki. Apa saja itu ? Orang bijak menyebutnya sebagai fitrah alam. Seumur hidupnya, fitrah wanita dilahirkan tiga kali, selama ia berhasil melalui fase-fase tersebut. Lalu apa saja fase tersebut?
  1. Wanita dilahirkan sebagai seorang anak dari kedua orang tua. Ia akan dibesarkan dengan penuh kasih sayang, penuh perhatian dan cinta kasih dari orang tuanya. Ia di jaga dari hal-hal yang dapat menodai kesuciannya. Bagai permata ia selalu diusap dan dibelai penuh perhatian dari kedua orang tuanya. Ia pun diajarkan mengenai adab-adab seorang perempuan, dididik agar memiliki otak yang cerdas agar nantinya dapat menjadi sekolah pertama bagi para anaknya. Ia pun dibesarkan dalam doa mulia kedua orang tuanya.
  2. Wanita dilahirkan sebagai seorang istri dari suaminya. Al-Quran menggambarkan wanita adalah sebagai sebaik-baik perhiasan. Ia menjadi pelayan sekaligus pengayom suaminya. Seperti tulisan pertama saya mengenai wanita-wanita tangguh dalam sejarah, bahwa ia selalu menjadi kunci kesuksesan seorang pria dalam karirnya. Maka sebaik-baik seorang istri tentu saja istri yang shalehah.
  3. Wanita dilahirkan sebagai seorang ibu yang akan melahirkan anak-anaknya. Pada peranan inilah ia merangkap sebagai seorang guru pertama bagi anak-anaknya. Maka bagaimana karakter seorang anak ke depannya, bagaimana kualitas keimanan seorang anak nantinya, itu semua tentu tidak pernah lepas dari tangan dingin seorang ibu
Setelah melalui 3 fase tersebut, tentu lengkaplah sudah jati diri seorang wanita seutuhnya.
Fenomena Wanita Masa Kini
Ketika bicara fenomena wanita saat ini, maka banyak sekali wanita yang mengkhianati fitrahnya. Kebanyakan di negara-negara maju, bahkan budaya ini mulai merambah ke Indonesia, wanita tidak mau melahirkan anak, dengan alasan takut badannya rusak, gemuk, sibuk dengan karirnya, atau masih banyak alasan-alasan yang lainnya. Di Singapura, fenomena yang terjadi adalah hampir semua wanita tidak mau melahirkan karena di anggap mengganggu karirnya. Bahkan pemerintah sampai mengambil kebijakan membayar wanita yang mau melahirkan karena dampak jangka panjangnya bisa saja populasi penduduk di Singapura makin sedikit bahkan bisa saja Singapura kekurangan penduduk.
Kembalilah ke Fitrahmu, Wahai Para Wanita
Fitrah wanita sebagai seorang anak, istri, dan ibu merupakan ciri mutlak yang seharusnya dimiliki oleh para wanita. Itu bukan berarti menjadi penghalang karir atau apapun. Namun justru karir adalah sebagai pelengkap fitrah yang dimiliki dengan tujuan untuk menunjang fitrahnya, bukan sebagai sarana untuk menyaingi karir laki-laki, bukan pula sebagai tujuan utama dalam kehidupan. Bayangkan saja, seandainya di Indonesia saja, wanita mau menerima fitrahnya sebagai seorang ibu, disamping ia menjadikan emansipasi wanita sebagai pelengkap dalam hidupnya, maka akan terlahir generasi anak-anak bangsa yang berkualitas. Ia mendapatkan pendidikan seorang ibu, perhatian seorang ibu, sebagai guru pertama bagi dirinya di dunia ini.
Penulis tentu berharap agar wanita-wanita di Indonesia kembali pada kodratnya. Ia jelas berperan sebagai tiangnya negara, sesuai dengan sabda baginda Nabi Muhammad 14 abad yang lalu. Namun, satu hal yang penting jangan sampai ia menjadikan jati dirinya hilang sebagai seorang wanita.
“Wanita itu adalah tiangnya negara, hancur majunya suatu negara bergantung bagaimana kondisi wanita di dalamnya” – Al Hadits

Jauh berabad-abad yang lalu sebelum sosok kartini dilahirkan, Rasulullah telah menyabdakan tentang keutamaan seorang wanita. Bahwa Wanita adalah tiangnya negara. Kedudukan wanita saat itu di bangsa arab begitu direndahkan di kalangan masyarakat, maka lahirlah sabda beliau yang mengagungkan kedudukan wanita. Bahwa ia adalah tiangnya negara. Tentunya hal itu memiliki definisi bahwa maju tidaknya suatu negara dapat dilihat dari seberapa tangguh dan berkarakter para wanitanya di negara itu.

Kita mengenal sosok Nabi Muhammad sebagai tokoh yang paling berpengaruh di dunia, berdasarkan Michael Hart dalam Bukunya 100 Tokoh di Dunia. Dan dibalik sosok kehebatannya tersebut ada wanita tangguh yang selalu mensupportnya. Ialah Siti Khadijah. Sosok saudagar wanita yang tulus ikhlas mencintai beliau. Bunda Khadijah berjuang dengan harta dan nyawanya untuk selalu mensupport perjuangan Rasulullah saat berdakwah. Dia juga yang menyelimuti Muhammad saat menggigil usai menerima wahyu. Maka tak salah ketika Khadijah meninggal terlebih dahulu, tahun meninggalnya dicatat sebagai amul hizmi atau tahun duka cita yang mendalam

Kita pergi ke pulau britania, negara Inggris tepatnya. Perdana Menteri Wanita pertama Negara Inggris yang mampu menjabat selama 3 periode berturut-turut. Siapa yang tak kenal dengan Margaret Tatcher. Dikenal cerdas sejak masa mudanya, ia mampu meraih gelar sarjana dan master bidang kimia dari University of Oxford di usia yang masih muda. Dua tahun usai menikah ia menyeberang menjadi seorang jaksa dengan spesialisasi hukum perpajakan. Karirnya semakin meroket saat ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan di mana langkah,yang mendobrak saat itu adalah menentang penghapusan pembagian susu gratis di sekolah-sekolah. Puncaknya ia akhirnya berhasil menduduki jabatan Perdana Menteri. Program unggulannya dan berhasil dilakukan selama pemerintahannya adalah mengentaskan pengangguran yang selama 50 tahun terakhir menghantui Inggris. Tak salah ia mendapatkan julukan wanita besi. Karena ia dikenal tegas dan lugas, selalu melangkah lurus sesuai intuisi kepemimpinan.

Dan kini, kita kembali ke Indonesia. Siapa yang tak mengenal sosok Kartini. Perempuan berdarah jawa tengah yang terkenal kelembutan dan kesantunannya. Dengan pena-nya ia berhasil menggoncangkan Indonesia pada masa itu. Ia memperjuangkan kebebasan dan kesejajaran wanita. Bahwa wanita berhak menerima pendidikan yang sejajar dengan para pria. Dan ia berjuang tanpa meninggalkan sisi feminisnya sebagai seorang perempuan. Tidak seperti wanita-wanita barat yang bergerak mengedepankan sisi maskulinnya.

Dan inilah salah satu goresan pena suratnya yang pada waktu itu mampu menggetarkan siapa pun yang membacanya:
Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan itu di didik dengan baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat tinggi. Agar disediakan pengajaran dan pendidikan. Karena inilah yang akan membawa bahagia baginya.
Penggalan surat tersebut dikirimkan kepada seorang istri pejabat Belanda pada masa itu, Ny. Van Kool pada Agustus tahun 1901. Dan dari surat itulah beberapa tahun setelah Kartini tiada, derajat perempuan yang sebelumnya di masyarakat hanya di anggap lapisan masyarakat kelas 2 dapat terangkat. Banyak pergerakan-pergerakan yang terlahir setelah tulisan-tulisan tersebut tersebar luas di masyarakat Indonsia pada waktu itu. Hasilnya pada waktu itu perempuan-perempuan Indonesia mampu bangkit menunjukkan eksistensi dirinya namun tak menghilangkan rasa lembut dan feminisnya sebagai seorang perempuan.
Terakhir, ada sebuah kutipan cantik dari RA Kartini.

Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam. – R. A. Kartini

Bahwa benarlah jika surat-suratnya dibukukan menjadi sebuah mahakarya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Dan kini masa itu telah datang. Era global di mana ruang lebih terbuka untuk para wanita menunjukkan eksistensi dirinya. Belajarlah dari para wanita-wanita tangguh yang pernah terlahir wahai para wanita Indonesia. Mereka ada bukan hanya untuk menginspirasi. Mereka ada untuk melahirkan penerusnya yang itu semua adalah kalian, para wanita masa kini generasi pembawa kejayaan Indonesia di masa mendatang.


Hal yang paling mendasar dalam materi ini adalah sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang bunyinya adalah, “Wanita itu adalah Tiang Negara”. Peran kepemimpinan wanita dalam sejarah memang tidak bisa diremehkan. Di Indonesia kita mengenal sosok seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Kartini, Dewi Sartika, dan para pahlawan nasional lainnya. Mereka adalah sosok wanita yang mampu memimpin kaumnya pada waktu itu untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ketika telah dewasa, peran wanita sendiri sesungguhnya ada dua. Yang pertama adalah sebagai istri, yang kedua adalah sebagai seorang ibu. Namun, di era globalisasi seperti saat sekarang ini, seringkali peran wanita sebagai seorang ibu mulai luntur dan dilupakan. Bahkan pekerjaan ibu rumah tangga seringkali dianggap sebagai pekerjaan yang hina, karena hanya berdiam di rumah saja, dan mengganggu karir. Padahal jika kembali ke fitrah seorang wanita, ia adalah madrasah peradaban pertama bagi anak-anaknya di masa kecil. Baik tidaknya seorang anak, salah satu faktor yang cukup besar yang menentukan adalah bagaimana seorang ibu nantinya mampu mendidik anak-anaknya dengan baik.

Lalu apakah jika hal seperti ini akan menghalangi wanita untuk berkarir ? Tentu saja tidak. Hal itu dicontohkan sendiri oleh pemateri pada sesi ini, Ibu Wirianingsih. Karir beliau  adalah sebagai salah satu anggota DPR RI Pada tahun 2014, dan tentu saja benar-benar sibuk beliau akan karir tersebut. Namun siapa sangka beliau memiliki 11 anak, dan kesemuanya merupakan generasi penghafal Quran. Beberapa di antaranya sudah hafal 30 Juz. Beliau dapat menjadi salah satu role model bagaimana seorang wanita yang mampu mengimbangi antara karirnya dan tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu.
Bahkan sebuah hal yang menyentak bahwa beliau berkata, jika untuk anak-anak orang lain saja para wanita harus berkuliah sampai S-3 untuk dapat mendidik putera dan puteri orang lain, lalu untuk anak kandungnya sendiri tidakkah ia harus menjadi seorang pendidik yang baik dengan menempuh pendidikan setinggi-tingginya? Tentu saja hal itu merupakan sebuah prestis tersendiri sekalipun hanya sehari-harinya sebagai seorang ibu rumah tangga, namun pendidikan tinggi tetaplah menjadi sebuah keharusan jika ingin menghasilkan generasi yang intelektual dan rabbani.

Peran perempuan di dalam sebuah negara juga tidak bisa diremehkan. Pepatah mengatakan dibalik sukses besar seorang laki-laki terdapat wanita yang selalu mendoakan dan mendampingi. Saat kita kecil, ingatlah bagaimana ibu kita senantiasa mencurahkan waktu untuk mendidik kita. Sekalipun barangkali beliau banyak ketidaksempurnaan, namun ingatlah bahwa perjuangannya adalah selalu dilakukan dengan usaha yang terbaik untuk menjadikan kita sebagai anaknya menjadi pribadi yang sempurna.

Saat kita dewasa, ingatlah ketika kita sudah memiliki seorang istri. Perannya begitu besar. Bagaimana ia mampu melakukan manajemen terhadap rumah tangga, mulai mengatur keuangan, memasak, mencuci, dan hal itu semua ia lakukan sendiri tanpa bantuan satu orang pun, dan yang hebatnya dilakukan secara istiqomah. Apalagi ketika ia berkarir tentu saja pikirannya semakin lelah, manakala harus menyeimbangkan antara prestasi dalam karirnya juga kewajibannya di rumah tangga.

Dari penjabaran di atas dapat diambil kesimpulan bahwa peran seorang wanita begitu besar dalam negara ini. Ia adalah pemimpin yang barangkali banyak bergerak di belakang layar kesuksesan seorang lelaki. Maka sudah menjadi kewajiban bagi seorang lelaki agar kelak mencari wanita yang terbaik bagi dirinya, disamping ia juga harus menjadi orang yang baik. Sebuah kata bijak berkata bahwa “Sebaik-baik seoran glelaki adalah yang mampu mencarikan calon ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak”.

#DewiKSN
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan oktober
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu*


Karena tak kusangka terjerumus ke dunia ini. Dunia yang sebenarnya jauh tak terimpikan di masa lalu. Sempat kuratapi resolusi-resolusi yang tertempel rapi di kamar tidurku. Dan di sana, tertulis jelas hingga membuat pandanganku tertuju kepadamu sebelum jiwaku berpaling dari ragaku, setiap hari dan setiap waktu. Namun laksana hujan, Tuhan pun merahasiakan rintik rinduNya padaku. Sampai suatu hari mungkin aku menemukan dirimu. Muncul tiba-tiba laksana hujan yang turun.  Hingga perasaanku jatuh laksana rintik hujan yang membisu. Berjuta kali aku jatuh dan kembali menguap terbang mengangkasa hanya untukmu. Sementara kau di pucuk pohon itu. Kau yang agung, sementara aku memilih jatuh berkali-kali untukmu. Dan kau sendiri di atas sana, aku pun sendiri di bawah ini.  

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan oktober
dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu* 

Masih dalam malu, kali ini aku semakin kuat menjatuhkan butir-butir perasaanku. Visi yang sama tuk menolong agamaNya. Misi yang sama untuk menyempurnakan setengah ini. Barangkali kau pun ragu-ragu dan aku pun ragu-ragu. Tenggelam dalam retorika yang tak pasti. Kata-kata itu pun akhirnya jatuh darimu, sehingga aku pun semakin ragu. Kujatuhkan pula kata itu, namun nihil reaksimu. Hingga hujan pun turun menghapus mozaik keabstraksian itu.  Kembali aku dalam ragu, di tengah rintik-rintik hujan yang membisu. Sementara nun jauh di sana mungkin kau sedang dipinggir jendela, menyaksikan jejak-jejak keraguanku yang semakin kabur tak menentu.

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan oktober
dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu*

Namun sejarah tak pernah lelah dalam mencatat. Entah memori khusus tentangmu selalu hadir dalam sketsa pikiranku. Sementara aku dibekap 2 pilihan antara perjuangan dan pengorbanan. Dan inilah jalan yang kupilih ialah sebuah perjuangan. Sementara kau di sana tanpa sadar telah menyerap abstraksi-abstraksi itu. Ah mungkin Tuhan pun merahasiakan rintik rinduku rindumu, rindu kita. Tak lelah Dia menghapus jejakku jejakmu. Lalu menuangkannya ke dalam memoar-memoar masa lalu. Mungkin inilah caraNya mempersiapkan sebuah waktu di mana kita menyeleseikannya. Antara aku dan dirimu, kita.

Sebab pertemuan selalu terjadi di manapun, kapan pun, dan dengan siapa pun bahkan sekalipun kamu tak mengharapkannya. Mungkin itulah yang terbersit dalam diriku tentang dirimu. Bahwa kamu lah yang menjadikan hati – hati ini tertawan. Bahwa kamu lah yang membuat pikiran ini kadang membayang. Kalau aku bertanya kepada hati, ia tak pernah mau menjawab. Mengapa ia tertambatkan kepadamu. Barangkali ia terlalu malu, atau tak tahu. Ya, benar kata orang bijak bahwa ia bisa hadir tanpa sebuah alasan.

Diriku dan dirimu barangkali tak pernah merencanakan. Tentang percakapan yang tiba-tiba berbuah kedekatan dengan sendirinya. Tentang cerita-cerita hidup yang ternyata sama. Visi hidup yang sama. Sampai pada suatu titik sulit dicari perbedaan antara kita. Hingga suatu hari muncul pertanyaan yang sama, lantas mau apakah kita dengan kesamaan-kesamaan yang barangkali telah ditakdirkan olehNya?

Pepatah berkata tidak ada keabadian di dunia, sebab kita hanyalah manusia. Bukan Tuhan yang Maha Kuasa, bukan pula Dewa-Dewi yang sakti mandraguna. Tak selamanya pula kesamaan itu kan bertahan. Sebab seringkali kita terlena, hingga dalam perjalanan kehidupan akhirnya kita temukan irisan-irisan perbedaan. Ia datang dengan sendirinya. Sama dengan pertemuan kita dulu, demikian pula ketika kita dalam fase menemukan kesamaan.

Hingga sampailah kita pada sebuah titik perbedaan. Kita pun menjauhkan satu sama lain. Barangkali kita sudah saling tahu namun berkata pun tak mampu. Tentang sesuatu yang pernah membuat Ali dan Fathimah membisu. Bukankah seharusnya kita makin penasaran? Ah, tapi itulah anomali cinta. Semakin ia berkembang semakin ia menjauh. Membuat jarak yang kian jauh dalam kefanaan.

Lalu aku khawatir. Adakah kita akan dalam posisi hampir tak mengenal. Atau bahkan kita kan saling melupakan. Kamu pun tak lagi mudah tersenyum seperti dulu. Sebab hanya tatapan dingin yang membalas sapaanku. Hingga tatap mata pun tak lagi bertemu sekalipun kita berpapasan dalam ruang waktu.
Pada akhirnya barangkali kita menyadari. Bahwa keterjauhan ini telah tersketsa oleh sang Maha Pencipta. Sebab menjauhimu bukan berarti tak mencintaimu. Menjauhimu adalah caraku, caramu, cara kita bahkan caraNya untuk menjaga. Menjaga akan kefitrahan ini. Menjaga hingga akad terlantunkan dalam ikatan suci.

Orang-orang berkata, “Aku mencintainya sejak pandangan pertama bertemu,”. Maka itulah penyempitan makna cinta. Bagaimana bisa manusia mencintai, sedang mereka belum mengetahui kepribadian sosok yang dicintai. Ibarat kamu membeli buah. Kamu hanya tahu keindahan warna dan rupanya. Namun tak pernah kamu tahu akan isinya sebelum kamu mampu membuka lapis demi lapisnya. Atau kamu nantinya akan mengeluh manakala membukanya? Ibarat kamu memakan buah itu, lalu kamu memuntahkannya sebab rasanya terlalu masam. Maka akankah kau campakkan dia manakala kau tahu tak sesuai harapanmu?
Tapi mereka bergeming. Sebab cinta pada pandangan pertama hanyalah sebuah pertanda. Hanyalah sebuah isyarat belaka untuk berjalan lebih jauh. Bukankah Tuhan menciptakan mata untuk menangkap getaran-getaran dari makhluk ciptaanNya?

Ada pula orang berkata, “Aku mencintainya sebab wajahnya laksana purnama,”. Maka cintanya hanya berdasarkan suatu hal yang fana. Andai tua nanti barangkali tetap seperti purnama, namun tanpa sinar mentari yang menyinarinya. Lalu tetapkah mereka mencintai purnama tanpa sinarnya?
Ah, mereka lagi – lagi bergeming. Bagi mereka wajah adalah langkah awal tuk mencintai lebih dalam. Bagaimana mungkin kami kan tertarik dengannya lebih jauh, jika melihatnya saja tidak membuat mata ini terlabuhkan? Lagi-lagi mereka tetap bersikukuh, bahwa wajah barangkali adalah segalanya. Sebab mereka berikrar nantinya seiring berjalannya waktu, barangkali wajah itu kan terlebur, namun tidak dengan hati-hati mereka.

Hingga tibalah kita pada golongan yang barangkali kecil jumlahnya. Mereka berkata, “Aku menyukainya, tapi aku tak pernah tahu mengapa,”. Kata-kata itu seringkali muncul dari sebagian kecil di dunia ini. Terkadang kita tidak memahami. Sebab cinta selalu punya alasan tersendiri untuk hadir. Cinta selalu memiki motif dibalik ketersembunyiannya dalam hati manusia. Lalu jika cinta itu hadir tanpa alasan, apakah itu hanya ketersmuan belaka?

Namun mereka bergeming. Mereka ceritakan dongeng nenek moyang mereka bahwa ada sepasang pasangan tua. Yang satu telah sakit jiwa hingga membuatnya hilang ingatan. Satunya telah tua renta. Mereka terpisah jauh karena pria tersebut tak sanggup lagi merawatnya dan hanya hidup sebatang kara. Sementara anak-anaknya telah merantau semua. Tinggallah ia sendiri di rumahnya. Sesekali tetangganya membantunya dalam sehari-hari. Sementara ia tak pernah kekurangan sebab anak-anaknya selalu mengiriminya.

Lalu pasangannya, seorang wanita tua renta, tinggal dua puluh kilo meter jauh-nya di sebuah panti pengasuhan. Pria itu setiap pagi datang untuk menyuapinya. Mendengar keluh kesah wanita itu. Menghapus air matanya manakala ia menangis. Menatap matanya dengan penuh cinta sekalipun tatapannya kian hari kian kosong. Ketika di tanya tentang pria itu, wanita itu hanya menggeleng tak tahu apa-apa. Sementara pria itu dengan senyum tulusnya berkata, “Ia adalah istriku, separuh agamaku, pengisi ruang-ruang cintaku,”.

Cinta tanpa karena barangkali telah tergambarkan diantara mereka berdua. Bukan karena rupa, sebab mereka telah renta. Bukan karena hati, sebab separuhnya telah hilang ingatan bahkan sakit jiwa. Bukanpula karena harta sebab mereka tak lagi miliki apa-apa. Adalah ikatan abstrak yang barangkali tak mampu manusia menjelaskannya. Cukup satu kata Kun Fayakun dari Tuhan Yang Maha Kuasa, maka jadilah sebuah cinta tanpa karena.

Lalu jika cintamu masih terkandung suatu ‘karena’, bisakah kau katakan itu sebuah ketulusan cinta?




Dulu kau selalu berkata, jika banyak kawan banyak cerita, banyak canda dan banyak tawa. Hingga aku percaya saja akan perkataanmu. Membuatku mengenali satu demi satu kawanku. Begitu luas dunia hingga terkadang aku sampai lupa beberapa kawanku yang pernah kukenali sebelumnya. Namun dunia begitu sempit manakala aku mengenali seseorang yang ternyata seorang kerabat dari kawanku.

Berjalannya waktu membuatku semakin mengenal banyak orang. Benar katamu, akan banyak cerita, canda dan tawa yang menghiasi perkenalanku. Meski sebenarnya aku tak pernah tahu untuk apa kelak aku mengenal banyak orang, tapi aku begitu mempercayaimu. Sebab kamu tidak berdusta kepadaku. Cukup canda, tawa, dan cerita menjadi bukti nyata kebenaran perkataanmu. 

Sebut saja saat ini kenalanku telah beribu-ribu. Hingga aku merasa bahagia. Namun hei, tunggu! Kian har cerita, canda, dan tawa kian membosankanku. Barangkali ini sebuah kehampaan sementara. Atau mungkin aku perlu beristirahat sejenak. Nyatanya kehampaan itu tak kunjung pergi. Aku berazzam ingin melanjutkan perjalanan ini, sementara hati tak kunjung berdamai. Apakah cukup sampai di sini diriku tuk kembali mengenali?

Hingga aku sadar dan aku menyesal. Bukan menyesali perkenalanku dengan ribuan orang. Bukan pula menyesali canda, tawa, dan cerita yang telah terlampau.
Mengenalmu adalah sebuah penyesalan terbesarku. Kupikir kau akan berlalu seperti ribuan orang yang kukenali. Namun tidak dengan dirimu. Kamu hadir sebagai penyesalan yang takkan mungkin kuhapuskan dalam hidupku. Sebab aku tidak pernah sanggup menghapusmu sekalipun telah ribuan orang kukenali.